Salat Tarawih adalah salah satu shalat sunnat yang
dilakukan saat bulan puasa atau Ramadhan
Tarawih dalam bahasa Arab adalah bentuk jama’ dari تَرْوِيْحَةٌ yang diartikan sebagai
"waktu sesaat untuk istirahat". Waktu pelaksanaan salat sunnat ini
adalah selepas isya', biasanya dilakukan secara berjama'ah di masjid. Fakta
menarik tentang salat ini ialah bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam
hanya pernah melakukannya secara berjama'ah dalam 3 kali kesempatan. Disebutkan
bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam kemudian tidak melanjutkan pada
malam-malam berikutnya karena takut hal itu akan menjadi diwajibkan kepada
ummat muslim (lihat sub seksi hadits tentang tarawih).
Raka'at Salat
Syarat – Syarat Shalat Tarawih umunya
seperti shalat yang di ajarkan oleh nabi Muhammad SAW, antara lain Islam, balligh
(mengetahui mana yang benar dan yang tidak), berakal, sehat, bersih dari najis
atau hadast (dengan melakukan wudhu ), menutup aurat, masuknya waktu, menghadap
kiblat, dan niat.
Tata Cara Shalat Tarawih
yang di sunnahkan Rasulullah SAW :
- Persyaratan : Pensyari'atannya
Shalat
tarawih disyari'atkan secara berjama'ah berdasarkan
Ketika
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menemui Rabbnya (dalam keadaan seperti
keterangan hadits diatas) maka berarti syari'at ini telah tetap, maka shalat
tarawih berjama'ah disyari'atkan karena kekhawatiran tersebut sudah hilang dan ‘illat
telah hilang (juga). Sesungguhnya 'illat itu berputar bersama ma'lulnya, adanya
atau tidak adanya.
- Setelah shalat isya, maka bersama sama bilal dan makmum membaca :
“SUBHAANAL
MALIKIL MA’BUUDI, SUBHAANAL MALIKIL MAUJUUDI, SUBHAANAL MALIKIL HAYYIL LADZII
LAA YANAAMU WALAA YAMUUTU WALAA YAFUUTU ABADAN SUBBUUHUN QUDDUUSUN RABBUNAA
WARABBUL MALAAIKATI WARRUUHI, SUBHAANALLAAHI WAL HAMDU LILLAAHI WALAA ILAAHA
ILLALLAAHU WALLAAHU AKBARU WALAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAHIL ‘ALIYYIL
‘ADHIIMI”.
Artinya :
“Maha suci Allah yg memiliki alam dan yg di sembah Maha suci Allah yg
memiliki lagi Maha Hidup dan tiada Mati dan tiada hilang selama-lamanya. Maha
Suci Maha Quddus, Tuhan kami dan Tuhan semua malaikat dan ruh, Maha Suci Allah
dan segala puji bagi Allah dan tiada Tuhan melainkan Allah, Allah Maha Besar,
dan tiada daya upaya dan tiada kekuatan kecuali dengan Allah, Tuhan yang Maha
Tinggi lagi Agung”.
- Niat Shalat Tarawih 2 rakaat yaitu :
أُصَلِّى سُنَّةَ
التَّرَاوِيحِ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُومًا/إِمَامًا للهِ تَعَالَى
"Ushalli sunnatat taraawiihi rak'ataini (ma'muman/imaaman)
lillahi ta'aalaa."
Artinya: " Aku niat Salat Tarawih dua rakaat
(menjadi makmum/ imam) karena Allah Ta'ala"
Atau ada pula yang
menggunakan formasi 4 rakaat “ ‘arba’a raka’ataini”
Beberapa Hadits Terkait
Berkata Ibnu Taimiyah
rahimahullaah dalam Majmu’ al-fatawa (23/113): “Dan sebagian kelompok
mengatakan, telah disebutkan secara shahih dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anha
bahwa “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat di bulan Ramadhan dan bulan
lain tidak pernah lebih dari 13 rakaat.” Banyak kaum menjadi terguncang dalam
masalah ini karena keraguan mereka terhadap hadits-hadits shahih yang
bertentangan baik yang berasal dari sunnah khulafa’ur rasyidin dan apa yang
telah dilakukan kaum muslimin kala itu.”
Dan
Syeikh bin Baaz berkata dalam Majmu’ Fatawa (11/322), “Telah tsabit
(tetap/jelas) dari Umar radliyallaahu ‘anhu bahwa beliau memerintahkan beberapa
sahabat untuk shalat 11 rakaat dan telah tsabit juga bahwa mereka shalat dengan
perintah Umar 23 rakaat, ini menunjukkan bahwa permasalahan ini luas, dan para
sahabat memaknai permasalah ini secara luas pula sebagaimana ditunjukkan oleh
sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, “shalat malam itu dua rakaat-dua
rakaat.”
Ada pula hadist lainnya,
Manfaat dan Keutamaan Shalat
Tarawih :
Seperti yang disabdakan oleh
Rasulullah SAW dan diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib yang dikutip dari kitab
Durratun Nasihin, berikut ini adalah keutamaan dan hikmah shalat Tarawih :
Malam ke 01 : Siapa
yang shalat Tarawih pada malam pertama dihapus dosa seorang Mu’min seperti
ketika ia di lahirkan.Malam ke 02 : Shalat Tarawih pada malam kedua di ampuni dosa dirinya dan kedua orang tuanya, jika keduanya Mu’min.
Malam ke 03 : Malaikat berseru dari ‘Arsy ” Telah diangkat amal dan dosanya yang telah lalu dan di ampuni oleh Allah SWT.
Malam ke 04 : Baginya mendapat pahala, seperti pahala membaca Kitab Taurat, Zabur, Injil dan AlQur-an.
Malam ke 05 : Allah SWT memberinya pahala seperti pahala Sholat di Masjidil Haram, Masjid Madinah dan Masjid Aqsho.
Malam ke 06 : Allah SWT memberinya pahala Thawaf di Baitul Makmur dan di mintakan ampun baginya oleh setiap batu benda.
Malam ke 07 : Seumpama pahala yang di peroleh nabi Musa A.S dan penolong dari kejahatan Fir’aun dan Hamman.
Malam ke 08 : Allah SWT memberikannya pahala seperti pahala apa yang diberikan kepada Nabi Ibrohim AS.
Malam ke 09 : Seumpama pahala Ibadah nabi Muhammad SAW.
Malam ke 10 : Allah SWT memberinya Rizki dan kebaikan di dunia dan akhirat.
Malam ke 11 : Apabila Ia meninggal dunia, seperti dilahirkan dari Ibunya.
Malam ke 12 : Ia datang pada hari kiamat kelak dengan wajah berseri-seri seperti bulan purnama.
Malam ke 13 : Ia datang pada hari kiamat, selamat dari kejahatan (kejelekan).
Malam ke 14 : Malaikat pada menyaksikan bahwa sesungguhnya orang tersebut telah Sholat Tarawih maka pada hari kiamat kelak Allah SWT tidak akan menghisabnya.
Malam ke 15 : Para malaikat bersholawat kepadanya dan menjaga di ‘Arsy dan kursi.
Malam ke 16 : Allah SWT mencatat baginya akan di bebaskan dari api neraka dan masuk surga.
Malam ke 17 : Diberikannya pahala seperti pahala para nabi.
Malam ke 18 : Satu Malaikat berseru : ” Hai Hamba Allah bahwasanya Allah SWT telah meridhoi kamu dan ke dua orang tuamu.
Malam ke 19 : Allah SWT akan mengangkat ke surga firdaus.
Malam ke 20 : Allah SWT memberikan pahala para Syuhada dan orang-orang Sholeh.
Malam ke 21 : Allah SWT membuatkan baginya sebuah istana di surga dari cahaya.
Malam ke 22 : Pada hari kiamat nanti, selamat dari kesulitan dan kesusahan.
Malam ke 23 : Allah SWT membangunkan baginya sebuah kota di surga. Malam ke 24 : Dua puluh empat (24) permintaanya di kabulkan oleh Allah SWT.
Malam ke 25 : Allah SWT mengangkatnya dari siksaan kubur.
Malam ke 26 : Allah SWT mengangkatnya baginya pahala empat puluh tahun (40 thn).
Malam ke 27 : Ia akan melewti jembatan Shirotul Mustaqim pada hari kiamat kelak seperti kilat menyambar.
Malam ke 28 : Allah SWT mengangkat baginya seribu (1000) derajat di surga.
Malam ke 29 : Allah SWT memberikan pahala seribu (1000) haji yang makbul.
Malam ke 30 : Allah SWT berfirman : Hai Hambaku, makanlah buah-buahan di dalam surga dan mandilah engkau dengan air Salsabil dan minumlah dari telaga kautsar, Aku tuhanmu dan engkau hamba-Ku.
Semoga dibulan puasa Ramadhan yang penuh berkah ini,
kita bisa melaksanakan shalat Tarawih dengan sempurna sampai akhir ramadhan.
Salam dan selamat membaca tata cara shalat Tarawih.
Kekeliruan Seputar Shalat Tarawih:
Berikut beberapa kekeliruan saat pelaksanaan shalat
tarawih berjama’ah dan tidak ada dasarnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam.
1. Dzikir berjama’ah di antara sela-sela shalat
tarawih. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz berkata, “Tidak
diperbolehkan para jama’ah membaca dzikir secara berjama’ah. Akan tetapi yang
tepat adalah setiap orang membaca dzikir sendiri-sendiri tanpa dikomandai oleh
yang lain. Karena dzikir secara berjama’ah (bersama-sama) adalah sesuatu yang
tidak ada tuntunannya dalam syari’at Islam yang suci ini”. (Majmu’ Fatawa Ibnu
Baz, 11:190)
2. Melafazhkan niat selepas shalat tarawih. Imam
Nawawi berkata, “Tidaklah sah puasa seseorang kecuali dengan niat. Letak niat
adalah dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan dan pendapat ini tidak
terdapat perselisihan di antara para ulama.” (Rowdhotuth Tholibin, 1:268).
3. Memanggil jama’ah dengan ‘ash sholaatul
jaami’ah’. Tidak ada tuntunan untuk memanggil jama’ah dengan ucapan ‘ash
sholaatul jaami’ah’. Ini termasuk perkara yang diada-adakan (Lihat Al Mawsu’ah
Al Fiqhiyyah, 27:140).
4. Mengkhususkan dzikir atau do’a tertentu antara
sela-sela duduk shalat tarawih, apalagi dibaca secara berjama’ah. Karena ini
jelas tidak ada tuntunannya (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27:144).
Semoga Allah memberikan kita kekuatan dan
keistiqomahan untuk menghidupkan malam-malam kita dengan shalat tarawih.
Wallahu waliyyut taufiq.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar