Senin, 03 Juni 2013

Shalat Tarawih (Shalat Sunnah di Bulan Ramadhan) ^_^



Salat Tarawih adalah salah satu shalat sunnat yang dilakukan saat bulan puasa atau Ramadhan
Tarawih dalam bahasa Arab adalah bentuk jama’ dari تَرْوِيْحَةٌ yang diartikan sebagai "waktu sesaat untuk istirahat". Waktu pelaksanaan salat sunnat ini adalah selepas isya', biasanya dilakukan secara berjama'ah di masjid. Fakta menarik tentang salat ini ialah bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam hanya pernah melakukannya secara berjama'ah dalam 3 kali kesempatan. Disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam kemudian tidak melanjutkan pada malam-malam berikutnya karena takut hal itu akan menjadi diwajibkan kepada ummat muslim (lihat sub seksi hadits tentang tarawih).
Raka'at Salat

Syarat – Syarat Shalat Tarawih umunya seperti shalat yang di ajarkan oleh nabi Muhammad SAW, antara lain Islam, balligh (mengetahui mana yang benar dan yang tidak), berakal, sehat, bersih dari najis atau hadast (dengan melakukan wudhu ), menutup aurat, masuknya waktu, menghadap kiblat, dan niat.


Tata Cara Shalat Tarawih
yang di sunnahkan Rasulullah SAW :
  1. Persyaratan : Pensyari'atannya
Shalat tarawih disyari'atkan secara berjama'ah berdasarkan

Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menemui Rabbnya (dalam keadaan seperti keterangan hadits diatas) maka berarti syari'at ini telah tetap, maka shalat tarawih berjama'ah disyari'atkan karena kekhawatiran tersebut sudah hilang dan ‘illat telah hilang (juga). Sesungguhnya 'illat itu berputar bersama ma'lulnya, adanya atau tidak adanya.


  1. Setelah shalat isya, maka bersama sama bilal dan makmum membaca :
“SUBHAANAL MALIKIL MA’BUUDI, SUBHAANAL MALIKIL MAUJUUDI, SUBHAANAL MALIKIL HAYYIL LADZII LAA YANAAMU WALAA YAMUUTU WALAA YAFUUTU ABADAN SUBBUUHUN QUDDUUSUN RABBUNAA WARABBUL MALAAIKATI WARRUUHI, SUBHAANALLAAHI WAL HAMDU LILLAAHI WALAA ILAAHA ILLALLAAHU WALLAAHU AKBARU WALAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAHIL ‘ALIYYIL ‘ADHIIMI”.

Artinya :
“Maha suci Allah yg memiliki alam dan yg di sembah Maha suci Allah yg memiliki lagi Maha Hidup dan tiada Mati dan tiada hilang selama-lamanya. Maha Suci Maha Quddus, Tuhan kami dan Tuhan semua malaikat dan ruh, Maha Suci Allah dan segala puji bagi Allah dan tiada Tuhan melainkan Allah, Allah Maha Besar, dan tiada daya upaya dan tiada kekuatan kecuali dengan Allah, Tuhan yang Maha Tinggi lagi Agung”.


  1. Niat Shalat Tarawih 2 rakaat yaitu :
 أُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيحِ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُومًا/إِمَامًا للهِ تَعَالَى
"Ushalli sunnatat taraawiihi rak'ataini (ma'muman/imaaman) lillahi ta'aalaa."
Artinya: " Aku niat Salat Tarawih dua rakaat (menjadi makmum/ imam) karena Allah Ta'ala"

        Atau ada pula yang menggunakan formasi 4 rakaat “ ‘arba’a raka’ataini”
Beberapa Hadits Terkait
Berkata Ibnu Taimiyah rahimahullaah dalam Majmu’ al-fatawa (23/113): “Dan sebagian kelompok mengatakan, telah disebutkan secara shahih dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anha bahwa “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat di bulan Ramadhan dan bulan lain tidak pernah lebih dari 13 rakaat.” Banyak kaum menjadi terguncang dalam masalah ini karena keraguan mereka terhadap hadits-hadits shahih yang bertentangan baik yang berasal dari sunnah khulafa’ur rasyidin dan apa yang telah dilakukan kaum muslimin kala itu.”
Dan Syeikh bin Baaz berkata dalam Majmu’ Fatawa (11/322), “Telah tsabit (tetap/jelas) dari Umar radliyallaahu ‘anhu bahwa beliau memerintahkan beberapa sahabat untuk shalat 11 rakaat dan telah tsabit juga bahwa mereka shalat dengan perintah Umar 23 rakaat, ini menunjukkan bahwa permasalahan ini luas, dan para sahabat memaknai permasalah ini secara luas pula sebagaimana ditunjukkan oleh sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, “shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat.”

Ada pula hadist lainnya,

Manfaat dan Keutamaan Shalat Tarawih :
Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW dan diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib yang dikutip dari kitab Durratun Nasihin, berikut ini adalah keutamaan dan hikmah shalat Tarawih :
Malam ke 01 : Siapa yang shalat Tarawih pada malam pertama dihapus dosa seorang Mu’min seperti ketika ia di lahirkan.
Malam ke 02 : Shalat Tarawih pada malam kedua di ampuni dosa dirinya dan kedua orang tuanya, jika keduanya Mu’min.
Malam ke 03 : Malaikat berseru dari ‘Arsy ” Telah diangkat amal dan dosanya yang telah lalu dan di ampuni oleh Allah SWT.
Malam ke 04 : Baginya mendapat pahala, seperti pahala membaca Kitab Taurat, Zabur, Injil dan AlQur-an.
Malam ke 05 : Allah SWT memberinya pahala seperti pahala Sholat di Masjidil Haram, Masjid Madinah dan Masjid Aqsho.
Malam ke 06 : Allah SWT memberinya pahala Thawaf di Baitul Makmur dan di mintakan ampun baginya oleh setiap batu benda.
Malam ke 07 : Seumpama pahala yang di peroleh nabi Musa A.S dan penolong dari kejahatan Fir’aun dan Hamman.
Malam ke 08 : Allah SWT memberikannya pahala seperti pahala apa yang diberikan kepada Nabi Ibrohim AS.
Malam ke 09 : Seumpama pahala Ibadah nabi Muhammad SAW.
Malam ke 10 : Allah SWT memberinya Rizki dan kebaikan di dunia dan akhirat.
Malam ke 11 : Apabila Ia meninggal dunia, seperti dilahirkan dari Ibunya.
Malam ke 12 : Ia datang pada hari kiamat kelak dengan wajah berseri-seri seperti bulan purnama.
Malam ke 13 : Ia datang pada hari kiamat, selamat dari kejahatan (kejelekan).
Malam ke 14 : Malaikat pada menyaksikan bahwa sesungguhnya orang tersebut telah Sholat Tarawih maka pada hari kiamat kelak Allah SWT tidak akan menghisabnya.
Malam ke 15 : Para malaikat bersholawat kepadanya dan menjaga di ‘Arsy dan kursi.
Malam ke 16 : Allah SWT mencatat baginya akan di bebaskan dari api neraka dan masuk surga.
Malam ke 17 : Diberikannya pahala seperti pahala para nabi.
Malam ke 18 : Satu Malaikat berseru : ” Hai Hamba Allah bahwasanya Allah SWT telah meridhoi kamu dan ke dua orang tuamu.
Malam ke 19 : Allah SWT akan mengangkat ke surga firdaus.
Malam ke 20 : Allah SWT memberikan pahala para Syuhada dan orang-orang Sholeh.
Malam ke 21 : Allah SWT membuatkan baginya sebuah istana di surga dari cahaya.
Malam ke 22 : Pada hari kiamat nanti, selamat dari kesulitan dan kesusahan.
Malam ke 23 : Allah SWT membangunkan baginya sebuah kota di surga. Malam ke 24 : Dua puluh empat (24) permintaanya di kabulkan oleh Allah SWT.
Malam ke 25 : Allah SWT mengangkatnya dari siksaan kubur.
Malam ke 26 : Allah SWT mengangkatnya baginya pahala empat puluh tahun (40 thn).
Malam ke 27 : Ia akan melewti jembatan Shirotul Mustaqim pada hari kiamat kelak seperti kilat menyambar.
Malam ke 28 : Allah SWT mengangkat baginya seribu (1000) derajat di surga.
Malam ke 29 : Allah SWT memberikan pahala seribu (1000) haji yang makbul.
Malam ke 30 : Allah SWT berfirman : Hai Hambaku, makanlah buah-buahan di dalam surga dan mandilah engkau dengan air Salsabil dan minumlah dari telaga kautsar, Aku tuhanmu dan engkau hamba-Ku.
Semoga dibulan puasa Ramadhan yang penuh berkah ini, kita bisa melaksanakan shalat Tarawih dengan sempurna sampai akhir ramadhan. Salam dan selamat membaca tata cara shalat Tarawih.


Kekeliruan Seputar Shalat Tarawih:

Berikut beberapa kekeliruan saat pelaksanaan shalat tarawih berjama’ah dan tidak ada dasarnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

1. Dzikir berjama’ah di antara sela-sela shalat tarawih. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz berkata, “Tidak diperbolehkan para jama’ah membaca dzikir secara berjama’ah. Akan tetapi yang tepat adalah setiap orang membaca dzikir sendiri-sendiri tanpa dikomandai oleh yang lain. Karena dzikir secara berjama’ah (bersama-sama) adalah sesuatu yang tidak ada tuntunannya dalam syari’at Islam yang suci ini”. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 11:190)

2. Melafazhkan niat selepas shalat tarawih. Imam Nawawi berkata, “Tidaklah sah puasa seseorang kecuali dengan niat. Letak niat adalah dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan dan pendapat ini tidak terdapat perselisihan di antara para ulama.” (Rowdhotuth Tholibin, 1:268).

3. Memanggil jama’ah dengan ‘ash sholaatul jaami’ah’. Tidak ada tuntunan untuk memanggil jama’ah dengan ucapan ‘ash sholaatul jaami’ah’. Ini termasuk perkara yang diada-adakan (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27:140).

4. Mengkhususkan dzikir atau do’a tertentu antara sela-sela duduk shalat tarawih, apalagi dibaca secara berjama’ah. Karena ini jelas tidak ada tuntunannya (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27:144).

Semoga Allah memberikan kita kekuatan dan keistiqomahan untuk menghidupkan malam-malam kita dengan shalat tarawih. Wallahu waliyyut taufiq.

SI KECIL FATIMAH AZZAHRA

ANAK YANG BERBAKTI
Fatimah anak dari Rasulullah dan Siti Khadijah. Kelahirannya sungguh luar biasa, karena Malaikat Jibril yang memberitahukan mengenai kelahirannya kepada Rasulullah. Dia lahir pada hari jum’at, 5 tahun setelah ayahnya di angkat menjadi Nabi dan Rasul.
                Rasulullah berkata mengenai namanya, “Sesungguhnya saya sudah menamai dengan nama Fatimah, karena Allah akan mengeluarkan siapa saja yang mencintainya dari siksaan api neraka.”
                Apakah kalian cinta kepada Fatimah?
                Rasulullah sangat mencintai Fatimah. Jika Fatimah mencari Rasulullah, beliau akan bangkin dari tempat duduknya, lalu mencium Fatimah.
                Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah mengenai kecintaannya kepada Fatimah. “Wahai Rasulullah, apa yang menyebabkanmu mencintainya?” Tanya Aisyah
                “Wahai Aisyah, jika kamu tahu apa yang saya ketahui tentangnya, niscaya kamu akan mencintai Fatimah sebagai mana aku mencintai dirinya. Fatimah adalah belahan jiwaku, barang siapa yang membencinya, maka dia telah membenciku dan barang siapa yang berbuat jahat kepadanya maka ia telah berbuat jahat kepada ku.”
                Ibunya, Siti Khadiah, meninggal ketika Fatimah msih sekitar umur 6 tahun. Sejak itu, Fatimah menggantikan tugas Ibunya. Dia mengambil alih urusn rumah tangga, seperti memasak, mencuci, dan mengurus keperluan ayahnya. Dia di kenal dengan sebutan “Ummu Abiha,” ibu dari ayahnya
                Fatimah pun dengan sabar, menemani dan membantu Rasulullah ketika beliau dimusuhi oleh kaum Kafir Quraisy. Fatimah membantu membersihkan kotoran-kotoran yang di lempar oleh kaum Kafir Quraisy kepada Rasulullah.
                Ketika Rasulullah terluka dalam Perang Uhud, Fatimah keluar bersama wanita-wanita dari Madinah menyambutnya agar hatinya tenang. Ketika melihat luka-lukanya, Fatimah langsung memeluknya. Kemudian, dia mengambil air, lalu membersihkan luka-luka Rasulullah.
                Sungguh berbakti Fatimah kepada Rasulullah